Menjaga Utuhnya Persaudaraan dan Ukhuwah Islamiyah

istiqlalOleh: Buya KH. Moh. Adnan Harahap (Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Pusat)

Rasulullah ﷺ bersabda,

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَاكُنْتَ وَاَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ (رواه احمد والترمذى)

Maksudnya :

  • Dimana saja kita supaya berperilaku “taqwa”
  • Apabila kita terlanjur berbuat salah, segera hapus dan tutupi dengan berbuat yang baik
  • Bergaullah sesama manusia dengan perilaku yang baik

Tema ini penting karena umat Islam semuanya di dunia ini prihatin, galau, malu dan amat bersedih melihat, mendengar berita-berita dunia siang malam sepanjang hari, bulan dan tahun tentang terjadinya peperangan di Timur Tengah dan negeri-negeri lain yang menghancurkan peradaban dan korban ribuan bahkan jutaan manusia muslim serta exodus, hijrah dari tanah airnya ke negeri lain. Sementara Pers Barat memblow up peristiwa biadab yang menghancurkan peradaban itu dengan citra yang indah “Spring Time” di Timur Tengah yaitu musim semi tumbuhnya demokrasi. Jadi seolah-olah semua peristiwa penghancuran peradaban Islam di Timur Tengah sebagai “Berkah” padahal umat Islam dunia merasakannya sebagai “Bom” yang menghancurkan martabat Islam.

Umat Islam Indonesia sebagai penduduk Muslim terbesar di dunia ini ingin tampil dalam polisi “Juru Damai” bukankah Allah ﷻ telah berfirman dalam Al Qur’an surat Al-Hujurat ayat 10 :

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَ أَخَوَيۡكُمۡۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ١٠

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya kamu bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.

Maksudnya :

  • Semua orang mukmin itulah yang bersaudara
  • Kewajiban orang mukminlah yang mendamaikan saudaranya
  • Perdamaian atas dasar taqwa

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ bahwa tandanya orang beriman apabila dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya.

لاَيُؤْ مِنُ احدُكم حتَّى يُحِبَّ لاَخيه مَايُحِبُّ لِنَفْسِهِ (رواه البخارى ومسلم وأحمد والنّسائى)

Maksudnya :

  • Persaudaraan sesama muslim itu merupakan perasaan senasib sepenanggungan
  • Mala petaka yang menimpa saudara bagaikan malapetaka dirinya, demikian juga sebaliknya

Dalam menjaga utuhnya persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah, Syaikh Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudaisi dalam khutbahnya yang dimuat dalam kitab : كَوْكَبَةُ – كَوْكَبَةْ  beliau menawarkan 3 syarat utuhnya persaudaraan sesama mukmin:

لِيَكُنْ اَقَّلَ حَظِّ المُؤْمِنُ مِنْكَ ثَلاَثٌ

  1. اِنْ لَمْ تَـــــنْفَعْهُ فَلاَ تَضُرَّهُ
  2. وَاِنْ لَمْ تُفْرِحْهُ فَلاَ تَغُمَّهُ
  3. وَاِنْ لَمْ تَمْدَحْهُ فَلاَ تَذُمَّهُ

Artinya : “Paling tidak ada 3 syarat bagi setiap orang mukmin untuk peduli dan menjaga martabat saudaranya beriman”

Yaitu :

  1. Kalau tidak dapat bermanfaat pada saudaranya, jangan sampai memberi mudharat kepadanya
  2. Kalau tidak dapat menggembirakannya setidak-tidaknya jangan sampai membuat saudaranya sedih dan gundah
  3. Kalau tidak dapat memujinya setidak-tidaknya jangan sampai mencaci dan menghinanya

Ini artinya kita wajib menjaga marwah dan martabat saudara kita seiman yaitu kita wajib menolong sesuai dengan posisi dan peran kita dalam kehidupan, kemudian kita wajib membuat gembira dan senang saudara kita serta wajibkan diri melihat sisi baik dan positif saudara kita. Sebaliknya kita harus menjaga kehormatan saudara kita seiman, tidak boleh meyusahkannya, tidak boleh pula membuat mereka sedih serta sekali-kali kita jangan sampai mencaci saudara kita seiman.

Akhirnya, mari sejenak merekam sejarah persaudaraan gemilang utuh dan abadi yaitu persaudaraan Muhajirin dengan Anshor Madinah yang terukir dalam Al Qur’an surat Al Hasyr ayat 9:

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”

Dalam ayat tersebut begitu mulia pengorbanan kaum Anshor yang mendahulukan kepentingan kaum Muhajirin daripada kaum Anshor, walaupun sebenarnya sangat membutuhkannya, ini hendaknya menjadi contoh bagi setiap pemimpin yang selalu mendahulukan kepentingan rakyat yang dipimpinnya. Dari ayat ini kita simpulkan batapa hebatnya persudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshor madinah sebagaimana digambarkan dalam hadits nabi Muhammad SAW   كَالْجَسَدِ الْوَاحِدْ  laksana tubuh yang satu, persaudaraan yang kuat dan bersatu padu sehingga melahirkan peradaban baru Madinah yang cemerlang. Jadi “ikon persaudaraan” abadi laksana peribahasa kita : “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”. Semoga kita dapat mencontohnya dalam kehidupan persaudaraan umat Islam dan bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *