Ukhuwah Islamiyah dalam Perspektif Tafsir Al-Qur’an

sadeliOleh: KH. Ahmad Sadeli Karim, Lc. (Ketua Mathla’ul Anwar)

  1. Pendahuluan

Manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu sama lain dengan fikiran dan kehendaknya yang bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok dalam bentuknya yang minimal, yang mengakui keberadaannya dan dimana dia dapat bergantung.

Kebutuhan untuk berkelompok ini merupakan naluri alamiah sehingga kemudian munculah ikatan-ikatan, seperti ikatan keluarga, ikatan kesukuan, dan pada manusia modern adanya ikatan profesi, ikatan negara, ikatan bangsa, hingga ikatan peradaban dan ikatan agama.

Kemudian ikatan-ikatan ini sering dikenal dalam istilah islam dengan istilah ukhuwah. Melihat minimnya pengetahuan tentang ukhuwah, urgensi serta keutamaannya dalam islam, maka dalam makalah ini akan dibahas secara singkat dan jelas tentang hal-hal yang berkaitan dengan ukhuwah islamiyah.

 

  1. Pengertian Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah menurut bahasa tercetak dari mashdar “ukhuwatun” yang berasal dari kata “akhun” yang berarti berserikat dengan yang lain karena kelahiran dari dua belah pihak atau salah satunya atau karena persusuan.

Sedangkan dalam istilah, menurut M. Quraish Shihab bahwa ukhuwah diartikan sebagai “setiap persamaan dan keserasian dengan pihak yang lain, baik persamaan keturunan, dari ibu, bapak atau keduanya, maupun keturunan dari persusuan”. Secara majazi kata ukhuwah (persaudaraan) mencakup persamaan salah satu unsur seperti suku, aga, profesi, dan perasaan.[1]

Menurut koordinator Forum Musyawarah Ulama’ (FMU) Madura KH. Ali Karar Shinhaji, ukhuwah ialah ikatan atau jalinan persaudaraan. Ukhuwah yang sebenarnya ialah jalinan persaudaraan yang didasari dengan keimanan kepada Allah dan Rasulnya. Ukhuwah seperti itu dikenal dengan Ukhuwah Islamiyah.[2]

Dr. Abdullah  Nashih Ulwan, Ukhuwah  Islamiah  adalah ikatan   kejiwaan   yang   melahirkan   perasaan   yang   mendalam   dengan kelembutan, cinta dan sikap hormat kepada setiap orang yang sama-sama diikat dengan akidah Islamiah, iman dan takwa.[3]

Ukhuwah Islamiah merupakan suatu ikatan akidah yang dapat menyatukan hati semua umat Islam, walaupun tanah tumpah darah mereka berjauhan, bahasa dan bangsa mereka berbeda, sehingga setiap individu di umat Islam senantiasa terikat antara satu sama lainnya, membentuk suatu bangunan umat yang kokoh.[4]

Terhadap  ukhuwah  (persaudaraan)  ini,  al -Ghazali,  menegaskan bahwa persaudaraan  itu harus didasari oleh rasa saling mencintai. Saling mencintai   karena   Allah   ﷻ   dan   persaudaraan   dalam   agama-Nya merupakan pendekatan diri kepada Allah ﷻ.[5]

Adapun maksud Ukhuwah  Islamiah  menurut Dr. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran diuraikan bahwa: “Istilah  Ukhuwah   Islamiah   perlu  didudukkan   maknanya,   agar bahasan kita tentang ukhuwah tidak mengalami kerancuan. Untuk itu terlebih dahulu perlu dilakukan tinjauan kebahasaan untuk menetapkan kedudukan kata Islamiah dalam istilah di atas. Selama ini ada kesan bahwa istilah tersebut bermakna persaudaraan  yang dijalin  oleh sesama  muslim,  sehingga  dengan  demikian  kata lain “Islamiah” dijadikan pelaku ukhuwah itu. Pemahaman  ini  kurang  tepat,  kata  Islamiah  yang  dirangkaikan dengan   kata   ukhuwah   lebih   tepat   dipahami   sebagai   ajektifa, sehingga  Ukhuwah  Islamiah  berarti  persaudaraan  yang  bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam”.[6]

Jadi  dari  uraian   di  atas  dapat  disimpulkan   bahwa   Ukhuwah Islamiah merupakan suatu ikatan jiwa yang kuat terhadap penciptanya dan juga    terhadap  sesama  manusia  karena  adanya  suatu  kesamaan  akidah, iman dan takwa. Adapun dari pendapat ketiga dapat disimpulkan  bahwa ukhuwah  Islamiah  merupakan  suatu  persaudaraan  antar  sesama  orang Islam, bukan karena keturunan, profesi, jabatan dan sebagainya melainkan karena adanya persamaan akidah.

 

  1. Urgensi Ukhuwah Islamiyah.

Terjalinnya ukhuwah (persaudaraan) dan kesatuan akan membawa kepada kesuksesan atau kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat. Allah ﷻ berfirman :

 

وَاذْكُرُوأ نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إحْوَنًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِنْهَا

 

Artinya : “Ingatlah akan nikmat Allah lepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikanlah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.[7]

 

Salah satu landasan utama yang mampu menjadikan umat bersatu atau bersaudara ialah persamaan kepercayaan atau akidah. Akan tetapi tidak berarti bahwa umat islam dilarang untuk berhubungan dan bersahabat dengan umat selain Islam. Umat islam pun dianjurkan untuk berhubungan dengan mereka karena pada dasarnya semua manusia itu berasal dari bapak yang sama, yakni Adam. Allah ﷻ berfirman:

 

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللّهُ النَّبِيِّنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الكِتَبَ بِالحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيْهِ

Artinya : “Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul persilisihan), maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai peberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.[8]

 

Intisari ayat tersebut menegaskan bahwa pada dasarnya manusia merupakan suatu rumpun keluarga, yang bersasal dari satu nenek moyang yaitu Adam dan Hawa.[9] Dari Adam dan inilah muncul manusia-manusia yang lai yang dalam hitungan Abad kemudian mereka tidak menjadi saling kenal mengenal satu sama lain. Meskipun saling tidak mengenal satu sama lain, bukan berati mereka tidak memiliki alasan saling memelihara persaudaraan, karena mereka sesungguhnya berasal dari satu bapak.

Oleh karenanya, perbedaan ras (keturunan, suku, bangsa) dan agama sebagaimana yang terjadi saat ini, bukanlah kehendak manusia, melainkan memang ada desain awal yang disengaja. Itu diciptakan demi keseimbangan tatanan kehidupan untuk menciptakan keharmonisan hubungan manusia dan alam.[10]

Selain itu Nabi ﷺ mempertegas persaudaraan muslim dalam sabdanya :

 

حَدَثَنَا أَبُو نُعَيْمِ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِر قَال سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيْرٍ يَقُولُ قَالَ رَسُول اللّهِ صَلى اللّهُ عَلَيهِ وَسلّمَ تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

 

Artinya: “ Nabi bersabda, Anda akan melihat kaum dalam kasih sayang dan cinta mencintai, pergaulan mereka bagaikan satu badan, jika satu anggotanya sakit, maka menjalarlah kepada lain-lain anggota lainya sehingga bdadanya terasa panas dan tidak dapat tidur[11].

Hadits diatas menggambarkan hakikat hubungan antara sesama kaum muslimin yang begitu eratnya menurut Islam. Hubungan antara kaum muslimin yang begitu eratnya menurut islam. Hubugan antara mereka dalam hal kasih sayang, cinta, dan pergaulan diibaratkan hubungan antara anggota badan, yang satu sama lain saling membutuhkan, merasakan, dan tidak dapat dipisahkan. Jika salah satu anggota tersebut sakit, mka anggota badan lainya ikut sakit.

Dalam hadits lain dinyatakan bahwa hubungan antara seorang mukmin lainya bagaikan bangunan yang saling melengkapi. Bangunan tidak akan berdiri kalau salah satu komponennya tidak ada ataupun rusak. Hal ini menggambarkan betapa kokohnya hubungan antara sesama umat islam. Inilah salah satu ajaran Islam yang memerintahkan umatnya untuk bersatu dan saling membantu karena persaudaran seiman lebih erat daripada persaudaraan sedarah.[12]

Ada beberapa keutamaan dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat islam, diantaranya:

 

  1. Ukhuwah menciptakan wihdah (persatuan)

Sebagai contoh dapat kita lihat dalam kisah heroik perjuangan para pahlawan bangsa yang bisa dijadikan landasan betapa ukhuwah benar-benar mampu mempersatukan para pejuang pada waktu itu. Tidak ada rasa sungkan untuk berjuang bersama, tidak terlihat lagi perbedaan suku, ras dan golongan, yang ada hanyalah keinginan bersama untuk merdeka dan kemerdekaan hanya bisa dicapai dengan persatuan.

 

  1. Ukhuwah menciptakan quwwah (kekuatan)

Adanya perasaaan ukhuwah dapat menciptakan kekuatan (quwwah) karena rasa persaudaraan atau ikatan kemanan yang sudah ditanamkan dapat menentramkan dan menenangkan hati yang awalnya gentar menjadi tegar sehingga ukhuwah yang telah terjalin dapat menimbulkan kekuatan yang maha dahsyat.

 

  1. Ukhuwah menciptakan mahabbah (cinta dan kasih sayang)

Sebuah kerelaaan yang lahir dari rasa ukhuwah yang telah terpatri dengan baik pada akhirnya memunculkan rasa kasih sayang antar sesama saudara seiman. Yang dulunya belum kenal sama sekali namun setelah dipersaudarakan semuanya dirasakan bersama. Inilah puncak tertinggi dari ukhuwah yang terjalin antar sesama umat muslim.[13]

 

  1. Macam-Macam Ukhuwah Islamiyah

Menurut Quraish Shihab, berdasarkan ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an, setidaknya ada empat macam bentuk persaudaraaan:[14]

  1. Ukhuwah ‘Ubudiyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah
  2. Ukhuwah Insaniyyah atau (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah bersaudara karena berasal dari seorang ayah dan ibu yang sama. Rasulullah ﷺ juga menekankan hal ini melalui sebuah hadits:

كُوْنُوا عِبَادَ اللّهِ إِخْوَانًا

“Jadilah kalian hamba Allah yang beriman

  1. Ukhuwah Wathaniyah wa an-Nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
  2. Ukhuwah fi ad-din al-islam, yaitu persaudaraan antara sesama muslim. Rasulullah ﷺ Bersabda :

أنتُم أصحابى اخواننا الذين يأتون بعبدى

Artinya: “kalian adalah sahabat-sahabatku, saura-saudara kita adalah yang datang sesudah (wafat)-ku”

 

Ukhuwah yang secara jelas dinyatakan oleh Al-Qur’an adalah persaudaraan seagama islam, dan persaudaraan yang jalinannya bukan karena agama. Ini tercermin dengan jelas dari pengamatan terhadap penggunaan bentuk jamak kata tersebut dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan arti kata akh, yaitu:

  1. Ikhwan, yang biasanya digunakan untuk persaudaraan tidak sekandung. Kata ini ditemukan sebanyak 22 kali, sebagian disertakan dengan kata ad-din (agama) seperti :

 

فَإن تَابُوا وَأَقَمُوا الصَّلَوةَ وَءَاتُواالزَّكَوةَ فَإِخْوَنُكُم فِى الدِّينِ

 

Artinya: “jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama”[15]

 

Sedangkan sebagian yang lain tidak dirangkaikan dengan kata ad-din, seperti:

 

وَإن فِى تُخَالِطُوهُم فَإخْوَنُكُم

 

Artinya : “ jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu”(QS. Al-Baqarah:220)

 

Teks ayat tersebut secara tegas dan nyata menunjukkan bahwa Al-Qur’an memperkenalkan persaudaraan seagama dan tidak segama.

 

  1. Ikhwah, kata ini terdapat sebanyak 7 kali dan digunakan untuk persaudaraan keturunan, kecuali satu ayat, yaitu :

إنَمَا الْمُؤْمِنُونَ اِخْوَةٌ

 

Artinya : “ orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. (Qs. QS. Al-Hujurat:10)

 

  1. Penafsiran Ukhuwah dalam ayat Al-Qur’an
  2. Surat at-Taubat ayat 11

فَإن تَابُوا وَأَقَمُوا الصَّلَوةَ وَءَاتُواالزَّكَوةَ فَإِخْوَنُكُم فِى الدِّينِ

Artinya: “ jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu segama.

 

Saudara-saudaramu seagama hanyalah terikat dengan dua tali, dua rukun saja, yakni shalat dan zakat, dan tidak ada tali pengikat yang sebenarnya selain yang dua itu. Dengan ikatan agama itu, maka gugurlah segala permusuhan yang telah lalu dan hapuslah segala dendam kesumat yang telah lalu.

Dengan adanya hal ini, sebagian ulama berkata, menjadi kafir tiap-tiap orang yang meninggalkan shalat dan meninggalkan zakat, karena Allah telah mensyaratkan perssaudaraan seagama pada shalat dan zakat. Jika salah satu dari yang dua perkara ini tidak ada padanya, tentulah kurang syarat yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang muslim. Demikianlah penafsirannya dalam tafsir Al-Ahkam.[16]

Anas berkata bahwa yang dimaksud taubat mereka ialah mencampakkan berhala, lalu menyembah Tuhan-Nya dengan mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukan hal ini, maka mereka merupakan saudaramu seagama, yakni kami dan mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama.[17]

Menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, dalam manafsiri ayat ini ialah jika orang-orang musyrk yang kami perintahkan kepada kalian untuk memeranginya itu meninggalkan kemusyrikan kepada Allah, lalu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kembali dan taat kepadanya, mendirikan shalat, yakni melaksanakan lengkap dengan segala syarat dan rukunnya, serta mengeluarakan zakat yang difardhukan, maka sesungguhnya mereka itu adalah saudara-saudara kalian didalam agama, kebaikan mereka adalah kebaikan kalian, kesusahan kalian adalah kesusahan kalian.

Dengan persaudaraan ini, hilanglah kedengkian dan permusuhan yang ada diantara kalian. Tidak ada perkenalan yang lebih indah dari pada perkenalan di dalam masjid-masjid untuk mendirikan shalat, dan mengeluarkan sedekah dengan kasih sayang orang kaya kepada orang fakir. Keuntungan duniawian ini tidak akan mereka peroleh, jika sebagian mereka memerangi yang lain.[18]

 

  1. Surat Al-Hujurat ayat 10

إِنَّمَا المُؤمِنُونَ إَخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

 

Artinya : “orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat:10)

 

Menurut M Quraish Shihab, bahwa perdamaian antara dua kelompok yang beriman sangat diperlukan, karena sesungguhnya orang-orang mukmin yang mantap imannya serta dihimpun oleh keimanan, kendati tidak seketurunan adalah bagaikan saudara  seketurunan, dengan demikian mereka memiliki keterkaitan bersama dalam iman dan juga keterkaitan bagaikan seketurunan, karena itu wahai orang-orang yang beriman yang tidak terlibat langsung dalam pertikaian antar kelompok-kelompok, damaikanlah walaupun pertikaian itu hanya terjadi antara kedua saudaramu apalagi jika dalam jumlah banyak dan bertakwalah kepada Allah yakni jagalah diri kamu agar tidak ditimpa bencana, baik pertikaian itu maupun selainya supaya kamu mendapat rahmat dari persatuan dan kesatuan.[19]

Kata اِخْوَةْ  adalah bentuk jamak dari kata akh, yang dalam kamus-kamus bahasa asing sering kali diterjemahkan saudara atau sahabat. Kata ini pada mulanya berati yang sama. Persamaan dalam garis keturunan mengkakibatkan persaudaraan, demikian juga persamaan dalam sifat atau bentuk apapun. Persamaan kelakuan sifat boros adalah saudara-saudara setan (baca: QS. Al-Isra’:27). Persamaan dalam kesukuan atau kebangsaan pun mengakibatkan persaudaan (Baca: QS. Al-A’raf:65).

Kata اَخْوَيْكُمْ  adalah bentuk dual dari kata اخ (akh). Penggunaan bentuk dual disini untuk mengisaratkan bahwa jangankan banyak orang, dua pun, jika mereka berselisih harus  diupayakan ishlah antara mereka, sehingga persaudaraan dan hubungan harmonis mereka terjalin kembali.

Ayat diatas mengisyratkan dengan sangat jelas bahwa persatuan dan kesatuan, serta hubungan harmonis antara anggota masyarakat kecil atau besar, akan melahirkan limpahan rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya, perpecahan dan keretakan hubungan mengundang lahirnya bencana buat mereka, yang pada puncaknya dapat melahirkan pertumpahan darah dan perang saudara sebagaimana dipahami dari kata qital yang puncaknya adalah perang. Demikian menurut M. Quraish Shihab dalam menafsirkannya.[20]

  1. Nasib Ar-Rifa’i menegaskan bahwa pada firman Allah Swt: “susungguhnya orang-orang mukmin itu bersudara”, yaitu semuanya bersaudara dalam agama, sebagaimana ini disabdakan oleh Rasulullah ﷺ,

واللّه فى عون العبد ما كان العبد فى عون أخيه

 

Artinya : “Dan Allah akan selalu siap menolong seorang hamba selama hamba itu selalu siap menolong saudaranya”.[21]

 

  1. Sejarah Ukhuwah Pada Zaman Nabi Muhammad

Kehidupan umat yang dicita-citakan oleh Islam ialah satu umat yang hidup dalam kerukunan, sejahtera damai dan kompak seperti sebatang tubuh. Banyak anjuran yang termuat dalam sumber ajaran Islam yang menghendaki agar umat Islam bersatu, bersandar dalam, kebersamaan, bermusyawarah yang berasaskan persamaan, keadilan dan kebenaran, saling menasehati, saling tolong-menolong   dan sebagainya.  Kehidupan  seperti  ini  pernah  terwujud dalam  kehidupan  generasi  pertama  dalam  masa  dakwah  Islamiah  (zaman Nabi).

Pada  waktu  Nabi  Muhammad  ﷺ  mulai  membangun  masyarakat muslim  di Madinah,  maka  ukhuwah  ini menjadi  salah  satu  di antara  catur darmanya:  1)  membangun  masjid,  2)  menggalang  ukhuwah  Islamiah,  3) membuat piagam Madinah bersama golongan Yahudi Nasrani, 4) menyusun garda   Nasional/pasukan   keamanan.[22]    Puncak   hubungan   sosial   ini  dapat digambarkan dalam masyarakat Islam yang pertama yaitu persaudaraan kaum Anshor dan Muhajirin yang dibangun atas dasar cinta yaitu ikatan hidup yang mengikat masyarakat bagaikan satu bangunan yang kokoh.

Persaudaraan antara golongan Muhajirin dan Anshar ini bukan hanya sekedar  kolektif,  tetapi  juga  secara  individual  (semacam  saudara  angkat) sehingga  diantara  mereka mengira dapat saling mewarisi.  Disamping antara mereka terbentuk solidaritas sosial yang selama ini belum pernah mereka rasakan.[23]  Mereka telah mengaplikasikan nilai-nilai yang tinggi itu (ukhuwah) sehingga    mereka    dapat   mencapai    menara    gading    kegemilangan    dan kesempurnaan. Hal ini tidak lain karena mereka selalu berpegang teguh pada tali keilmuan yang Allah ikatkan di hati mereka. Selain itu mereka juga menentang siswa yang tidak selaras dengan nilai-nilai keimanan mereka. Namun apa yang terlihat dalam lintasan   sejarah umat Islam setelah Nabi ﷺ wafat, ialah suatu fenomena yang menggambarkan wajah umat Islam yang terpcah belah dan bermusuhan satu sama lain.

Nabi wafat dengan hanya meninggalkan petunjuk bagaimana seharusnya kaum muslimin hidup dalam bermasyarakat dan bernegara secara umum. Tidak ada penjelasan terperinci yang berupa wasiat bagaimana masyarakat dan negara dikelola setelah beliau wafat, ini merupakan masalah besar umat Islam.  Karena  tidak  ada  petunjuk  terperinci  inliah  maka  ketika Nabi  wafat,  belum  lagi  jenazahnya  disemayamkan  di  persada  bumi,  kaum muslimin sudah terpecah dalam dua ide politik: demokrasi dan hereditary.[24]

Pada  paruhan  kedua  masa  pemerintahan  Ustman  bin  Affan  yang berusia  dua  belas  tahun,  gejala  perpecahan  mulai  muncul,  lahir  kelompok oposan terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan yang beliau ambil. Tanpa memperhatikan   maksud   dan tujuan dari kebijaksanaan khalifah, mereka menolak pengangkatan pejabat-pejabat negara yang berasal dari satu klan dan khalifah. Mereka menuduh Utsman menganut nepotismen dan menggunakan uang negara untuk mendapat dukungan politik. Ustman tewas diujung pedang kelompok penentang.

Kewafatan  ustman  melahirkan  tiga  kelompok  kaum  muslimin  yang berdiri  saling  berhadapan.  Pertama mendukung Ali bin Abi Thalib.  Kedua, mendukung muawiyah Ibn Abu Sufyan. Ketiga namakanlah kelompok Jamal terdiri dari penduduk Madinah di bawah pimpinan Aisyah, Thalhah dan Az- Zubeir.  Pertentangan Ali dan Mu’awiyah mengulang kembali sejarah lama yakni perang antara Byzantium dengan Persia di masa pra Islam.

Tahkim Shuffin yang merupakan hasil perundingan  di Adruh selama enam bulan antara pihak Ali dan pihak Mu’awiyah melahirkan perpecahan di kubu Ali yang berakibat lahir pula kelompok politik baru. Denan terjadinya perpecahan  di kubu Ali, maka muncullah  ide politik yakni Syiah, Khawarij dan Dinasti  (pendukung  Mu’awiyah)  ketiga kelompok  ini antara satu sama lain  slaing  bermusuhan  dan  berbunuh  maka  sejarah  pun  mencatat  begitu banyak   darah  kaum  muslim  tertumpah   membahasi   bumi,  hanya  karena perbedaan pandangan politik. Satu tragedy yang berakibat panjang, sampai sekarang. Ukhuwah Islamiah makin dilupakan.

Dinasti Umaiyah yang berkedudukan di Damaskus bertahan hidup hanya satu abad. Dia diganti oleh dinasti Abasiyah yang berkedudukan di Baghdad. Dinasti Abasiyah walaupun pada segi perkembangan budaya memperlihatkan   prestasi   cemerelang   sehingga   mampu   menempatkan   diri sebagai  pemegang  obor  penerang  dunia,  namun  mereka  tetap  tidak  mampu melahirkan ukhuwah.

Dengan terjadinya keberagaman dalam ide politik dan perbedaan- perbedaan dalam apa yang dianggap sebagai kepentingan nasional, maka benturan-benturan yang terjadi adalah hal yang sukar terelakan. Ini memang suatu hal yang tragis dan sangat menyedihkan, namun adalah suatu kenyataan. Sekarang timbul pertanyaan apakah terhadap hal ini belum ada pemikiran atau upaya-upaya menemukan jalan keluarnya.  Jawabannya, sudah. Namun hasil yang menggembirakan belum menampakkan diri.

Untuk melahirkan kerukunan sesama muslim demi tegaknya persatuan, ada enam langkah atau upaya yang layak dikerjakan. 1) menghilangkan sikap fanatisme   golongan,   2)   menghindari   sengketa   masalah   cabang   agama (furu’iyah), 3) mengutamakan persatuan, 4) menumbuhkan rasa kebersamaan, 5) mencegah lahirnya berbagai macam fatwa sebagai hasil ijtihad, maka sebaiknya  dilakukan  secara  kolektif,  dan 6) pengertian  tentang  umat Islam, harus mencakup semua orang yang mengaku dirinya muslim tanpa memperhatikan sikap dan pandangan politiknya.

 

  1. G.Penutup

Dari penjelasan singkat diatas dapat disimpulkan bahwa ukhuwah adalah setiap persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan, dari segi ibu, bapak, atau keduanya, maupun dari segi persusuan atau mencakup persamaan salah satu unsur sepertu suku, agama, profesi dan perasaan.

Ukhuwah juga sangat penting dalam memepertahankan dan menyatukan umat islam yang saat ini sudah mengalami disintegrasi yang dilatarbelakangi oleh berbagai perbedaan kepentingan terutama dalam dunia politik.

Dengan ukhuwah kita bisa merasakan manisnya iman, berada di bawah naungan cinta Allah, dan diampunkan dosa. Bersaudara karena Allah adalah amal mulia dan mendekatkan hamba dengan Allah serta menjadi ahli surga di akhirat kelak. Rasulullah bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapat salah satu tempat di surga.”

 

Daftar Pustaka

 

  1. Shibab, Quraish . Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1994.
  2. Internet, http://cakhakam.blogspot.com/2011/06/makalah-pai-ukhuwah-islamiyah.html, diakses 18-9-2011.
  3. Nasution, Yunan. Pegangan hidup 2. Solo:Ramadhani, 1987.
  4. Muda Harahap, Hakim. Rahasia Al-Qur’an:Menguak Alam Semesta, Manusia, Masyarakat, dan keruntuhan Alam. Jogjakarta: Darul Hikmah, 2007.
  5. Imam Bukhari, Kitab : “Tata Krama”, Bab : “Kasih sayang kepada manusia dan binatang” . No 78
  6. Syafe’i, Rachmat. Al-hadits (Aqidah, Akhlaq, Sosial, dan Hukum). Bandung:Pustaka Setia, 2000.
  7. Shihab, Quraish. Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudhui atas pelbagai Persoalan Umat. Bandung:Mizan, cet. III, 1996.
  8. Mustahfa Al-Maraghiy, Ahmad. Tafsir Al-Maraghiy. Mesir; Mustafa Al-Babi Al-Halabi, 1987.
  9. Shihab, Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an. Jakarta:Lentera Hati, 2002.
  10. Nasib Ar-Rifai, Muhammad. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2.Jakarta : Gema Insani Press, 2000.

[1] Quraish Shihab, Membumikan AL-Qur’an:Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994), 357.

[2] Internet, http://cakhakam.blogspot.com/2011/06/makalah-pai-ukhuwah-islamiyah.html, diakses 18-9-2011.

[3]    Abdullah   Nashih   Ulwan,   Pendidikan   Anak   Menurut   Islam,   (Bandung:   Remaja Rosdakarya, 1990), hlm. 5.

[4] Musthafa Al Qudhat, Mabda’ul Ukhuwah fil Islam, terj. Fathur Suhardi, Prinsip Ukhuwah dalam Islam, (Solo: Hazanah Ilmu, 1994), hlm. 14.

 

[5] Musthafa Al Qudhat, Mabda’ul Ukhuwah fil Islam, terj. Fathur Suhardi, Prinsip Ukhuwah dalam Islam, (Solo: Hazanah Ilmu, 1994), hlm. 14.

[6] M. Quraish Shihab, Op. Cit., hlm. 486-487.

[7] QS. Ali Imran:103

[8] QS. Al-Baqarah: 213.

[9] Yunan Nasution, Pegangan Hidup 2, (Solo:Ramadhani, 1987), 26

[10] Hakim Muda Harahap, Rahasia Al-Qur’an: Menguak Alam Semesta, Manusia, Masyarakat, dan Keruntuhan Alam, (Jogjakarta: Darul Hikmah, 2007), 133

[11] Imam Bukhari, Kitab: “tata Krama”, Bab: Kasih Sayang kepada Manusia dan Bintang”. No. 78

[12] Rachmad Syafe’i, Al Hadits (Aqidah, akhlaq,sosial dan hukum), (Bandung: Pustaka Setia,2000), 201

[13] Internet, http://cakhakam.blogspot.com/2011/06/makalah-pai-ukhuwah-islamiyah.html, diakses 18-9-2011.

[14] Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an dan Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, Cet. III, 1996), 489.

[15] QS. At-Taubah:11

[16] Syeikh Abdul Hasan Binjai, Tafsir Al-Ahkam (Jakarta:Kencana, 2006), 477

[17] Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), 572

[18] Ahmad Mustafa AL-Maraghiy, Tafsir Al-Maragiy, (Mesir: Mustafa Al Babi Al Halahi, 1987), 111

[19] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 247

[20] Ibid., 249

[21] Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 2, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), 429

[22] Muhammad Tholchah Hasan, Diskursus Islam dan Pendidikan (Sebuah Wacana Kritis), (Jakarta: Bina Wiraswasta Insan Indonesia, 2002), hlm. 98.

[23] Ibid

[24] Nouruzzaman  Ash-Shidqi,  Jeram-jeram  Peradaban  Muslim,  (Yogyakarta:  Pustaka Pelajar, 1996), hlm. 166.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *