Adab Menjaga Ukhuwah Islamiyah

ddiOleh: Dr. Darwis Abu Ubaidah, M.Pd.I (Ketua Litbang Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia/DDII)

Di dalam kitab Mausu’ah mawaqif as-salaf fil ‘aqidah wal manhaj wat-tarbiyah, karya Abu Sahl Muhammad bin Abdirrahman al-Maghrawi disebutkan bahwa Raja’ bin Haywah meriwayatkan:

ما أحسن الإسلام ويزينه الإيمان، وما أحسن الإيمان ويزينه التقوى، وما أحسن التقوى ويزينه العلم، وما أحسن العلم ويزينه الحلم، وما أحسن الحلم ويزينه الرفق

Betapa indahnya Islam yang dihiasi oleh iman; betapa indahnya iman yang dihiasi oleh taqwa; betapa indahnya taqwa yang dihiasi oleh ilmu; betapa indahnya ilmu yang dihiasi oleh kesantunan; dan betapa indahnya kesantunan yang dihiasi oleh kelemahlembutan.

Sifat kesantunan  (al-hilm) dan kelemahlembutan (ar-rifq) adalah dua sifat yang sangat erat hubungan dengan adab seorang muslim. Dua sifat yang lahir dari sebuah keyakinan (al-iman dan takwa) yang tumbuh dan berkembang di atas dasar ilmu. Ilmu yang senantiasa menyinari hidup dan kehidupannya di manapun berada. Sebagai bagian dari pemahaman yang benar terhadap petunjuk Rasulullah SAW yang mengajarkan ummat untuk senantiasa menjadikan iman dan takwa sebagai pijakan di manapun berada: Bertakwalah kamu kepada Allah di manapun kamu berada, iringilah keburukanmu itu dengan berbuat baik niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan gaulilah  manusia dengan akhlak yang baik. (HR. At-Tirmidzi).

Dalam kaitannya sebagai upaya untuk menjaga dan merawat Ukhuwah Islamiyah, kita patut bersyukur kepada Allah atas segala limpahan karunia-Nya yang teramat besar kepada ummat ini, yaitu nikmat ukhwah, persaudaraan.  Para sahabat Anshar yang terdiri dari suku Khazraj dan Aus adalah sebuah generasi yang paling merasakan betapa indahnya hidup yang penuh dengan rasa persaudaraan ini. Di mana dalam kurun waktu yang sangat lama, tidak kurang empat puluh tahun mereka larut dan tenggelam dalam perang saudara. Perang yang telah banyak menelan korban baik harta maupun jiwa, bagaikan berada di tepi jurang neraka, lalu Allah selamatkan mereka dengan Islam, yang mengajarkan ukhwah atau persaudaraan.

Allah ﷻ menceritakan bagaimana keadaan mereka, para sahabat Anshar ini sebelum dan sesudah Islam. Firman Allah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran:103).

Bahkan bila terjadi perselisihan di antara sesama muslim, mukmin, Allah ﷻ memerintahkan kepada mereka untuk memperbaikinya, mendamaikan di antara mereka yang bersengketa itu. Firman Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat:10).

Ada beberapa hal yang mesti dilakukan oleh setiap muslim dan mukmin sebagai bagian dari adab dalam menjaga keutuhan Ukhawah Islamiyah di kalangan ummat ini, di antaranya:

  1. Niat yang Ikhlas

Adalah sebuah keagungan ketika seorang hamba dianugerahi hati yang bersih, niat yang ikhlas, tulus dalam menjalankan berbagai tugas dan pekerjaannya. Karena dengan bermodalkan hati yang bersih dan niat yang ikhlas itulah seseorang akan mampu menghadapi berbagai persoalan di dalam hidupnya. Dengan itu pulalah segala amal perbuatan akan dinilai. Dan niat juga yang menjadi pembeda apakah suatu perbuatan itu bernilai ibadah atau adat, kebiasaan; apakah perbuatan itu berstatus hukum wajib atau sunnah. Menjaga ukhwah agar tetap langgeng bukanlah pekerjaan mudah, tetapi membutuhkan sebuah kekuatan dan ketelatenan dalam menjalaninya. Agar semua apa yang dilakukan tidak menjadi sia-sian, tidak dihargai oleh Allah, maka niat yang ikhlas, tulus adalah jawabannya.

 

Umar bin Khattab ra meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda:

إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya segala amal bergantung kepada niatnya, dan masing-masing orang mendapatkan apa yang diniatkannya. (HR. Bukhari)

 

  1. Berteman dan bersahabat dengan orang mukmin yang shaleh

Salah satu usaha dan kerja keras yang harus dilakukan oleh seorang mukmin yang shaleh adalah berteman dan bersahabat dengan orang-orang mukmin yang shaleh. Salah seorang sahabat, Abu Sa’id al-Khudri ra meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

Janganlah berteman kecuali dengan yang beriman, dan janganlah makananmu dimakan kecuali oleh orang yang bertakwa. (HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud).

Berteman dan bersahabat dengan orang-orang yang tidak beriman dan tidak shaleh hanya akan mendatangkan keburukan dan menimbulkan kerusakan, bukan saja di dunia ini tapi juga di akhirat kelak.

 

Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS. Az-Zuhruf:67).

 

  1. Bersahabat dan berteman karena Allah

Bersahabat dan berteman karena Allah ﷻ adalah ajaran yang sangat mulia, persahabatan dan pertemanan yang didasarkan kepada petunjuk wahyu, petunjukan yang dating dari Zat Sang Pencipta langit dan bumi, pencipta alam semesta. Inilah persahabatan dan pertemanan yang mendatangkan banyak kebaikan dan kebahagiaan yang tidak terbatas di dunia yang fana ini, tetapi juga akan berlanjut dengan kebahagiaan di akhirat kelak. Satu dari tujuh golongan yang berhak mendapatkan naungan kelak di hari kiyamat, hari yang tiada satupun naungan kecuali naungan Allah adalah dua orang manusia yang saling menyayangi karena Allah.

 

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah bersabda:

وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

..dan dua orang laki-laki (dua orang hamba Allah) yang saling menyayangi karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah..(HR. Bukhari)

 

  1. Menumbuhkan sifat itsar dalam persaudaraan

Para sahabat adalah generasi pertama yang telah merasakan betapa bahagia dan indahnya dengan kehidupan yang penuh dengan sifat itsar ini. Secara umum itsar (الإيثار) adalah sebuah sikap mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan diri sendiri. Satu sifat yang mungkin sudah agak sulit kita temukan sekarang ini. Padahal itsar adalah salah satu akhlak yang paling utama.

 

Allah ﷻ menceritakan bagaimana sifat rela berkorban serta mendahulukan kepentingan saudaranya di atas kepentingan diri sendiri yang telah bersemayam di dalam qablu para sahabat Anshar di kala itu. Mereka begitu bersuka cita atas kedatangan para sahabat Muhajirin yang datang dari Makkah.

 

Allah ﷻ telah berfirman:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Hasyr: 9).

 

Dalam sebuah riwayat yang dikemukakan oleh imam Bukhari, disebutkan: Setibanya kaum Muhajirin di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Abdurrahman bin ‘Auf (Muhajirin) dengan Sa’ad bin Rabi’(Anshar). Sa’ad berkata kepada Abdurrahman: Aku termasuk di antara orang-orang Anshar yang terkaya, dan hartaku akan aku bagi dua, separoh untukku dan separohnya lagi untukmu. Aku juga punya dua orang istri, lihatlah, mana yang baik menurut kamu, sebutkan namanya kepadaku, ia akan segera aku ceraikan, setelah habis masa ‘iddahnya aku perkenankan kamu untuk menikahinya. Abdurrahman bin ‘Auf menjawab: Semoga Allah memberkahi harta dan keluarga anda. Tunjukkanlah kepadaku di mana pasar kalian? Kemudian Abdurrahman ditunjukkan ke pasar bani Qainuqa’, ketika ia pulang ternyata ia telah membawa gandum dan samin.

 

Ini secuil kisah generasi terbaik dari kalangan ummat ini yang telah Allah ﷻ patrikan di dalam hati mereka sifat yang sangat agung dan mulia ini.

 

  1. Memberitahukan kepada saudaranya bahwa ia mencintainya karena Allah

Maksud dari poin ini adalah ketika seseorang merasa senang, sayang kepada sesama saudaranya yang seiman, kebaikan dan keshalehannya, adalah sebuah sunnah, tuntunan Rasulullah ﷺ kepada ummat ini untuk memberitahukan kepada saudaranya itu bahwa dia menyayanginya karena Allah.

 

Al-Miqdam bin Ma’di Karib ra meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُعْلِمْهُ إِيَّاهُ

Apabila salah seorang di antara kamu mencintai (menyayangi) saudaranya, maka beritahukanlah kepadanya. (HR. At-Tirmidzi).

 

  1. Tolong-menolong dalam meraih kebaikan

Tolong menolong dalam berbagai kebaikan sudah menjadi bagian dari ajaran Islam yang sangat mulia. Al-Qur’an telah mengingatkan para hamba yang beriman untuk selalu tolong menolong, bahu membahu dalam berbagai kebaikan.

 

Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Dan tolong menolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan takwa. (QS. Al-Maidah:2)

 

Pada suatu ketika, Umar bin Khattab ra pernah berkata: Beginilah seharusnya yang kalian lakukan. Bila mana kalian melihat ada sesuatu yang dapat menggelincirkan saudara kalian, maka hendaklah kalian menguatkannya, kokohkan dia. Berdoalah kepada Allah untuknya, kiranya Allah menerima tobatnya. Dan janganlah kalian tolong menolong untuk membantu syetan.

 

  1. Bersungguh-sungguh dalam memberikan pertolongan

Bersungguh-sungguh dalam memberikan pertolongan dan bantuan kepada sesama saudara kita yang seiman tidak terbatas pada urusan-urusan yang bersifat ukhrawi saja, tetapi juga dengan hal-hal yang berkaitan dengan duniawi.

 

Jabir bin Abdillah ra meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah melarang ruqyah atau mantera-mantera. Kemudian keluarga Amr bin Hazm dating menemui Rasulullah ﷺ seraya berkata: Sesungguhnya ada seorang perempuan yang pandai me-ruqyah dimana kami minta ruqyah kepadanya, sementara engkau telah melarang ruqyah tersebut. Kemudian mereka menceritakan kepada beliau ﷺ tentang apa yang dilakukan oelh perempuan itu. Mendengar keterangan tersebut Nabi ﷺ bersabda: Saya melihatnya tidak masalah, siapa di antara kalian yang bias menolong saudaranya, maka tolonglah dia. (HR. Muslim).

 

Jika kita memperhatikan tentang ayat-ayat dan hadits- hadits Nabi Muahmmad ﷺ yang berkaitan dengan bagaimana adab dalam upaya menjaga Ukhwah Islamiyah sangatlah banyak. Apa yang disampaikan dalam tulisan ini hanyalah bagaikan setetes air hujan berbading air yang berada di lautan luas nan dalam. Semoga bermanfaat bagi semuanya.

Wallahu a’lam bis-shawab.

 

RUJUKAN:

-al-Bukhari, Shahe al-Bukhari, Beirut: Darul Fikr, 1981

-Muslim, Shaheh Muslim, Beirut: Darul Fikr, 1988

-At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun

-Abu Sahl Muhammad bin Abdirrahman al-Maghrawi, Mausu’ah mawaqif as-salaf fil

 ‘aqidati wal manhaj wattarbiyah, Cairo: Al-Maktabah Al-Islamiyah, tanpa tahun

 

 

Biodata Penulis

 

Nama                      : Dr. Darwis Abu Ubaidah

Tempat/tgl Lahir    : Sekijang, 25 Februari 1969

Alamat                    : Perumahan Jatinegara Indah Blok AB 2 No. 21 Jak-Tim

  1. 0813 1606 1189  Email: dau69@yahoo.com

Pekerjaan                : Ketua Bidang Antar Lembaga Dalam Negeri Dewan Da’wah                                             Islamiyah Indonesia, (2016-2020)

: Staf Pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah DR. M. Natsir

: Staf Pengajar di Pascasarjana UNISMA “45” Bekasi

Pendidikan             : S1, Institut Agama Islam Al-Aqidah, Jakarta, 1999

: S2, Universitas Islam “45” Bekasi, 2009

: S3, Universitas Ibn Khaldun Bogor, 2013

Karya Tulis            : Perintah Allah kepada orang-orang beriman, Visi Insani Publishing,                             Jakarta, 2005

: Panduan Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Pustaka Al-Kautsar,                                                 Jakarta 2008

: Tafsir Al-Asas, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2012

: Menggapai Ampunan di Bulan yang Penuh Berkah, PORSIMTA                                                PUBLISHING, Jakarta, 2013

: Fikih Wanita Praktis, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *