Posisi Ukhuwah Islamiyah pada Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

BKPRMI copy1Oleh: Nanang Mubarok (Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia/DPP BKPRMI)

Kita memuji dan bersyukur kepada Allah ﷻ atas nikmat Islam yang telah dilimpahkan kepada kita. Dialah yang telah memberi taufiq dan hidayah kepada kita dan membantu menyempurnakan kepribadian Islam kita dengan aqidah, ibadah dan akhlak Islamiyah. Dengan demikian kita dapat menyadari beratnya tanggung jawab kita terhadap agama yang benar ini. Haruslah disadari bahwa kita tidak akan merasa cukup menjadi muslim sendirian, dan kita berkewajiban memainkan peranan positif dalam rangka menegakkan masyarakat Islam yang berbasiskan pada nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷻ dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indionesia (NKRI), Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan UUD 1945.

Telah jelas bagi kita bahwa kewajiban besar ini tidak mungkin dapat dilaksanakan secara sempurna kalau hanya dilaksanakan secara perorangan, tetapi ia harus dilaksanakan dengan menghimpun semua potensi dan dalam satu manhaj (pendoman, panduan) yang betul dalam rangka mencapai tujuan yang agung ini. Dalam kaidah Ushul Fikih dinyatakan:

“Satu kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengannya, maka ia adalah wajib”.

 

Pluralitas, Perbedaan dan Kemajemukan dalam Bingkai Persatuan

Kita sering mendengar dan melihat pluralitas dalam keseharian kita, lalu apakah pluralitas itu? Pluralitas adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan ini. Ia adalah sunnah Ilahi yang dapat dilihat di alam ini. Allah SWT menciptakan alam ini diatas sunnah pluralitas dalam sebuah kerangka kesatuan. Dalam kerangka kesatuan manusia, kita melihat bagaimana Allah menciptakan berbagai macam suku bangsa, bahasa dan agama. Dalam kerangka kesatuan sebuah bangsa, Allah menciptakan beragam suku dan kabilah. Dalam kerangka kesatuan sebuah bahasa, Allah menciptakan berbagai macam dialek. Dalam rangka kesatuan syariat, Allah menciptakan berbagai macam mazhab sebagai hasil ijtihad masing-masing. Tentunya masih banyak lagi bentuk pluralitas di alam ini yang tidak dapat disebutkan semuanya. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah tujuan Allah dengan menciptakan alam ini di atas sunnah pluralitas? Hikmah apakah yang Allah akan berikan kepada makhluknya atas sunnah pluralitas ini? Lalu, bagaimana Islam memandang sunnah pluralitas ini?

Pluralitas adalah kemajemukan yang didasari oleh keutamaan, keunikan dan kekhasan. Karena itu, pluralitas tidak dapat terwujud atau diadakan atau terbayangkan keberadaanya kecuali sebagai antitesis dan sebagai objek komparatif dari keseragaman dan kesatuan yang merangkum seluruh dimensinya. Pluralitas tidak dapat disematkan kepada “situasi cerai-berai” dan “permusuhan” yang tidak mempunyai tali persatuan yang mengikat semua pihak, tidak juga kepada kondisi “cerai-berai” yang sama sekali tidak memiliki hubungan antar masing-masing pihak.

Pluralitas juga tidak dapat disematkan kepada kesatuan yang tidak mempunyai parsial-parsial, atau yang bagian-bagiannya dipaksa untuk tidak menciptakan “keutamaan”, “keunikan”, dan “kekhasan” tersendiri. Setidaknya ketika penilaian itu diletakkan dalam dunia nyata, bukan berdasarkan kemungkinan atau atas dasar kekuatan.

Anggota suatu keluarga adalah bentuk pluralitas dalam kerangka kesatuan keluarga dan sebagai antitesis darinya. Pria dan wanita adalah bentuk pluralitas dari kerangka jiwa manusia. Bangsa-bangsa dan kabilah-kabilah adalah bentuk pluralitas jenis manusia.

Pluralitas mempunyai tingkatan-tingkatan yang ditentukan oleh faktor “penyatu dan pengikat” yang menyatukan dan mengikat masing-masing dimensinya dalam suatau kesatuan. Dalam tingkatan yang tinggi (misalnya) ada pluralitas peradaban yang mempunyai keunikan masing-masing. Peradaban-peradaban itu memiliki tingkatan yang didalamnya terdapat pluralitas mazhab, kecenderungan berpikir, nasionalisme, bahasa, agama dan Negara. Masing-masing individu dalam pluralitas ini mempunyai perbedaan dalam kekhasan dan keunikan masing-masing, yang kemudian seluruhnya bertemu dalam “ikatan” peradaban yang satu yaitu “peradaban manusia” yang merangkumnya.

Pluralitas, sebagaimana halnya seluruh fenomena dan mazhab pemikiran, memiliki sifat pertengahan (moderat/adil), keseimbangan, juga mempunyai sisi yang ekstrem, baik yang melebih-lebihkan atau yang mengurang-ngurangkan. Sisi pertengahan (keadilan) serta keseimbangannyalah yang dapat memelihara hubungan antara “kemajemukan, perbedaan, dan pluralitas” dan faktor kesamaan, pengikat, dan kesatuan”.

Sementara itu, disintegrasi dan kacau-balau ditimbulkan oleh “sikap ekstrem memusuhi dan menyempal” yang tidak mengakui dan tidak memiliki faktor pemersatu. Juga oleh sikap “penyeragaman” (yang mengingkari kekhasan dan perbedaan), yaitu “sikap ekstrem represif dan otoriter” yang menafikan perbedaan masing-masing pihak dan keunikannya.

 

Pluralitas, Perbedaan dan Kemajemukan adalah Sunnatullah

Kita sudah sama-sama memahami bahwa Islam sebagai agama yang diturunkan Allah untuk menjadi petunjuk (Hudan) dan membawa rahmat bagi seluruh alam, menjelaskan apa tujuan Allah ﷻ dengan sunnah pluralitas itu. Islam tidak memandang pluralitas sebagai sebuah perpecahan yang membawa kepada bencana. Islam memandang pluralitas sebagai rahmat yang Allah turunkan bagi makhluknya. Dengan pluralitas, kehidupan menjadi dinamis dan tidak stagnan karena terdapat kompetisi dari masing-masing elemen untuk berbuat yang terbaik. Hal ini membuat hidup menjadi tidak membosankan karena selalu ada pembaruan menuju kemajuan.

Islam adalah agama yang fitrah. Artinya, makrifat terhadap Allah ﷻ dan iman kepada-Nya adalah sesuatu yang telah terpasang dalam diri manusia, sudah built-in. Seluruh manusia dilahirkan  dalam keadaan fitrah, atau atas kebersihan dan kejernihan yang asli, serta telah dirancang dan terpasang dalam dirinya untuk beriman secara fitrah kepada Penciptanya, Allah SWT.

Dalam Islam, pluralitas, yang dibangun di atas tabiat asli, kecenderungan individual, dan perbedaan masing-masing pihak masuk dalam kategori fitrah yang telah digariskan oleh Allah ﷻ bagi seluruh manusia. Fitrah itu dapat saja dibelenggu atau dikekang. Namun, ia tetap sebagai sunnah (ketentuan) dari sunnah Allah ﷻ yang tidak dapat berubah atau tergantikan.

Karena seperti inilah kedudukan perbedaan pendapat, pluralitas, dan kemajemukan dalam kacamata Islam, maka Al-Qur’an adalah sumber utama dalam mencari dan mengetahui sikap Islam terhadap pluralitas dan kemajemukan itu. Dengan demikian, kita dengan mengkaji masalah ini, tidaklah sedang membicarakan “pemikiran yang baru”, yang kita buat-buat atau kita adopsi dari luar. Namun, menurut kacamata “konsep Islam”, Al-Qur’an mensinyalir hal itu adalah “ciptaan Ilahi” serta sunnah “yang azali dan abadi”, yang telah ditetapkan oleh Allah SWT bagi seluruh makhluk. Maka manusia tidak pernah menjadi satu tipe tertentu saja, tetapi mereka akan terus berbeda-beda satu sama lain.

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka…” (QS. Huud: 118-119)

Jika pada mulanya, awal sejarah manusia, dimulai dengan Adam dan Hawa, sebagai umat yang satu, dalam agama dan syariatnya, kemudian transformasi umat yang satu ini menjadi beragamnya umat dan berkembang biaknya generasi-generasi, ini berimplikasi pada pluralitas syariat-syariat para rasul dengan beragamnya risalah-risalah agama. Dan, sunnah pluralitas itu telah ada semenjak awal sejarah manusia.

“Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.”

Hakikat sikap Al-Qur’an ketika pluralitas menjadi kemajemukan dalam kerangka kesatuan adalah sikap yang melihatnya sebagai sunnah Ilahiyah yang Allah ﷻ fitrahkan bagi sekalian manusia. Allah ﷻ menjadikan manusia berbeda-beda dalam bentuk fisik, pemikiran, dan amal mereka, sehingga setiap manusia seperti sidik jari yang berbeda-beda dalam kerangka kesatauan jenis manusia. Pengertian hakikat pluralitas dalam Al-Qur’an ini, telah disepakati oleh para mufassir dari seluruh latar belakang mazhab pemikiran mereka sepanjang masa. Dan, ulama terdahulu telah menjadikan ikhtilaf dan kemajemukan ini sebagai illat diciptakannya manusia oleh Allah SWT. Mereka berkata,

“Karena mereka berbeda-bedalah maka Allah ﷻ menciptakan mereka”[1]

 

 

Tujuan & Hikmah Ilahiah dalam Pluralitas, Perbedaan dan Kemajemukan

Indonesia adalah bukti nyata dari sunnatullah yang tercipta dengan pluralitas, perbedaan dan kemajemukan, yang jika merujuk dalam pandangan Islam sebagai pokok yang konstan, kaidah yang abadi, dan sunnah Ilahiyah, dapat berfungsi sebagai;

  1. Pendorong untuk saling berkompetisi dalam melakukan kebaikan dan berlomba dalam menciptakan prestasi yang baik, dalam berkarya dan berkreasi
  2. Motivator untuk menghadapi ujian, cobaan, kesulitan berkompetisi, yang mengevaluasi dan memberikan tuntutan bagi perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam menggapai kemajuan dan muruah Indonesia.
  3. Sebagai sumber inspirasi bagi terwujudnya vividitas kreativitas (penggambaran yang hidup) yang terancam keberadaannya jika tidak terdapat perbedaan dan kekhasan masing-masing daerah di Indonesia.

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka…” (QS. Hud: 118-119)

Dalam menafsirkan ayat ini, para mufasir mengatakan bahwa perbedaan, kemajemukan, serta pluralitas dalam syariat-syariat dan manhaj-manhaj itu sebagai condition sine qua non (keadaan atau syarat yang sangat diperlukan) dalam penciptaan makhluk. Mereka berkata, “Makna ‘dan untuk itulah Allah ﷻ menciptakan mereka’ seakan-akan pluralitas itu sebagai illat ‘sebab keberadaannya’ wujud ini.”[2]

“…Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Maa’dah: 48)

Pluralitas dan kemajemukan bersifat “alami dalam diri manusia dan mereka diciptakan dengan kesiapan untuk itu” serta ditakdirkan untuknya. Medan-medannya meluas dan beragam sesuai dengan luas dan macam-macam medan kehidupan, baik materiil atau pemikiran, atau dengan kata-kata Hujjatul Islam al-Ghazali, “…bagaimana mereka bersatu untuk mendengarkan (suatu pendapat yang satu saja), padahal mereka telah ditetapkan pada masa azali bahwa mereka akan terus berbeda-beda, kecuali orang yang dikasihi Allah ﷻ. Dan, karena berbeda-beda itu pula Allah ﷻ menciptakan mereka.”[3]

Jika kemajemukan dan pluralitas merupakan faktor-faktor yang membuahkan perbedaan maka faktor kesatuan kemanusiaan menjadi ikatan persatuan mereka. Karena “tidak mungkin manusia berbeda pada lahir mereka, tetapi tidak berbeda dalam batin mereka. Dan, tidak sesuai pula dengan hikmah jika sesuatu yang terus membanyak, tapi tidak berbeda-beda. Juga tidak mungkin jika suatu jenis dan macam telah disatukan, tapi elemen-elemennya tidak kunjung bertemu dan bersatu.”[4]

Perbedaan dan kemajemukan yang telah difitrahkan Allah ﷻ bagi manusia adalah untuk tujuan hikmah-hikmah Ilahiah yang besar. Pluralitas dan perbedaan merupakan motivator bagi pihak-pihak yang berbeda untuk berkompetisi, saling dorong serta berlomba; dan setiap pihak berjuang untuk memenangkan apa yang menjadi kekhasan mereka, dan apa yang membuat mereka berbeda dari yang lainnya.

Jika tidak ada pluralitas, perbedaan dan perselisihan niscaya tidak ada motivasi untuk berlomba, saling dorong, dan berkompetisi di antara individu, umat, pemikiran, filsafat serta peradaban-peradaban, dan hidup ini pun akan menjadi stagnan, tawar dan hambar, serta mati tanpa dinamika. Manusia tidak akan dapat mewujudkan tujuan-tujuan amanah kekhilafahan yang telah diembankan, yaitu agar mereka membangun bumi dan mengembangkan wujud peradaban mereka. Juga manusia tidak akan dapat mewujudkan kualitas umat terbaik (khairu ummah) yang bertugas untuk berdakwah, mengajak dalam kebaikan dan saling mencegah dalam kemungkaran dan kejahatan.

Keimanan akan kemajemukan, kekhasan, dan perbedaan adalah motivator bagi kreativitas, serta saling dorong dalam medan kemajuan, pembangunan, dan peningkatan peradaban. Sementara, keyakinan akan ketunggalan model pemikiran dan peradaban adalah pintu taklid, peniruan, dan pada akhirnya membawa kepada stagnasi dan hilangnya potensi kreativitas yang mengantarkan kepada kematian.

“…Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Maidah: 48)

Dalam menafsirkan hikmah Ilahiyah ini, Sayyid Quthb (1324-1386 H/1906-1966 M) berkata, “Adalah tabiat manusia untuk berbeda. Karena perbedaan ini adalah salah satu pokok dari pokok-pokok diciptakannya manusia, yang menghasilkan hikmah yang tinggi. Seperti penugasan makhluk manusia ini sebagai khalifah di muka bumi, serta perbedaan mereka dalam persiapan dan potensi-potensi serta tugas yang diemban. Sehingga, pada gilirannya akan membawa kepada perbedaan dalam kerangka berfikir, kecenderungan metodologi yang dipegang, dan teknik-teknik yang ditempuh. Kehidupan seluruhnya akan stagnan dan membusuk jika Allah ﷻ tidak mendorong manusia dengan yang lainnya, dan jika tabiat manusia yang telah difitrahkan oleh Allah ﷻ tidak saling berbenturan maslahat dan kecenderungan lahirnya agar energy berpendar untuk bersaing, saling mengalahkan, dan saling mendorong, niscaya akan timbul sifat malas dan pasif dalam diri manusia. Sementara, dengan perbedaan dan persaingan tadi manusia akan menggali potensi mereka yang terpendam, serta akan selalu terjaga dan berusaha mengeksplorasi kekayaan bumi ini, dengan menggunakan kekuantannya serta rahasia-rahasianya yang terpendam, yang pada akhirnya akan membawa kepada kebaikan, kemajuan, dan pertumbuhan. Akidah membutuhkan pembelaan, dan tempat-tempat ibadah tidak terjaga kecuali dengan tindakan saling membela antara masing-masing manusia satu sama lain. Artinya, pemilik akidah menjaganya dari musuh-musuh yang melangar kehormatan serta berlaku aniaya kepada pemeluknya. Itu adalah kaidah umum yang tidak akan berubah selam manusia masih tetap sebagai manusia.”

Namun, tindakan saling dorong dan saling membela, yang menjadi motivator dan diperkuat oleh kemajemukan dan perbedaan itu, harus terus bersifat membawa manfaat, berada dalam kerangka kesatuan nilai yang konstan, serta pokok-pokok yang menyatukan di antara pihak-pihak yang berselisih dan saling membela diri itu. Karena “harus ada timbangan yang konstan yang dapat memuaskan seluruh pihak yang berselisih, dan kata akhir sebagai rujukan dalam berdebat, serta ada tujuan yang sama dari anak manusia. Kemudian, tentang perinciannya, dapat berbeda bagi masin-masing orang sesuai dengan kebutuhan bangsa dan generasi. Fakta seperti ini amat penting untuk menjaga pokok-pokok agama dari campur tangan manusia sehingga agama tetap menjadi pertimbangan yang konstan dan hukum yang adil.”[5]

“Ia adalah kemajemukan dan perbedaan dalam kerangka kesatuan pokok-pokok yang tetap dan satu,” dan perbedaan pemahaman adalah sesuatu yang pasti terjadi, karena ia merupakan sifat manusia.  Mereka harus mengembalikan perbedaan itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sebagai hakim tertinggi, sehingga perselisihan dapat hilang dan tidak terus membebani mereka,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)[6]

Kemajemukan dan perbedaan yang alami dan baik, tidak terjadi dalam pokok-pokok yang menjadi kesatuan jika dalam pokok-pokok kesatuan itu terjadi perselisihan. Perselisihan itu adalah “permusuhan” bukan “kemajemukan”, dan menjadi masalah dalam agama, dan dalam hukum Ilahi yang konstan, atau dalam “kesatuan yang menyatukan”, bukan dalam kerangka kesatuan yang menjadi kesatuan itu![7]

Oleh karena itu, dibutuhkan “kesatuan” bagi kemajemukan dan rujukan bagi perbedaan yang terjadi, serta suatu kebersamaan dari orang-orang yang berbeda dengan kekhasan masing-masing. Sehingga, pluralitas itu menjadi pertengahan yang adil dan seimbang di antara kutub ekstrem yang berlebihan, yang cerai-berai dan bermusuhan, dan yang tidak mempunyai kesatuan bagi pihak-pihak yang ada, juga yang totaliter dan represif bagi kekhasan masing-masing serta yang mengingkari kemajemukan dan perbedaan. Karena “manusia, dalam asal fitrah mereka dan awal penciptaan mereka, telah berbeda-beda tapi bersatu dan bersatu tapi berbeda, serta mereka berselisih tetapi mempunyai kesatuan pendapat, serta mempunyai kesatuan pendapat tapi juga berselisih pendapat.”[8]

 

 

Pluralitas, Perbedaan dan Kemajemukan dalam Pandangan Islam

Sikap Islam yang seperti itu terhadap pluralitas, merupakan sikap pertengahan di antara dua kutub ekstrem pandangan manusia terhadap pluralitas:

  1. Yang menolak pluralitas mentah-mentah. Padangan manusia yang menolak pluralitas mentah-mentah adalah pandangan yang menganggap pluralitas sebagai sebuah bencana yang membawa pada perpecahan sehingga pluralitas harus dihilangkan dan keseragaman mutlak harus dimunculkan. Hal ini dapat kita lihat pada “totaliterisme Barat” yang diwakili oleh Uni Soviet
  2. Yang menerima pluralitas mentah-mentah. Pandangan manusia yang menerima pluralitas mentah-mentah adalah pandangan yang menganggap pluralitas sebagai sebuah bentuk kebebasan individu yang tidak ada keseragaman sedikit pun. Hal ini dapat kita lihat pada model “Liberalisme Barat” di banyak Negara.

Sedangkan sikap Islam yang moderat, yang menerima pluralitas sekaligus menerima keseragaman, dapat dilihat dari keberterimaan Islam terhadap beragam mazhab fikih, tetapi tetap dalam kerangka kesatuan atau keseragaman syariat Islam.

Islam hanya mengakui “ketunggalan” (yang tidak mempunyai sisi parsial dan bentuk plural) semata bagi Zat Allahﷻ dan tidak bagi makhluk, seluruh alam, dan semua yang ada disegala bidang dan dunia makhluk, yaitu semua yang  berdiri di atas kemajemukan, interelasi, serta yang tersusun dan partikel lain dan unsur-unsur yang terpisah. Dengan demikian, pemikiran Islam menjadikan pluralitas sebagai suatu “sunnah” dari sunnah-sunnah Allah dalam penciptaan dan makhluk seluruhnya, dan suatu ayat (tanda kekuasaan) dari ayat-ayat Allah ﷻ yang tidak ada pengganti dan perubahan baginya.

Ia adalah “undang-undang” Ilahi dan “sunnah” Ilahiah yang asli dan abadi dalam perjalanan kosmos ini, aturan sosial masyarakat, serta perkara-perkara pembangunan dunia dan seluruh tataran-tatarannya. Dengannya, “ketunggalan” menjadi miliki mutlak dan khusus bagi Zat al-Haq, Allah ﷻ, sedangkan pluralitas menjadi ciri khas dan milik seluruh dimensi kehidupan makhluk.

Dalam setiap nasionalisme dan ras terdapat pluralitas. Al-Qur’an menyebut hal itu sebagai satu ayat (tanda kekuasaan) dari ayat-ayat Allah ﷻ dalam sistem kemasyarakatan manusia. Allah ﷻ berfirman,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 22)

Ayat tersebut menjelaskan masalah pluralitas dalam kerangka “faktor kesatuan manusia”.

Dalam hal kebangsaan dan suku terdapat pluralitas yang membuahkan perbedaan yang diperintahkan oleh Al-Qur’an agar hal itu dipergunakan dalam membangun hubungan ta’aruf (saling mengenal) di antara masing-masing pihak yang berbeda-beda itu.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujarat: 13)

Pluralitas dalam ayat tersebut adalah pluralitas perbedaan bentuk bangsa-bangsa dan kabilah-kabilah yang berdiri di atas kerangka faktor kesatuan (hikmah agar ber-ta’aruf) di antara semua umat manusia.

 

Prinsip-prinsip dalam Kerangka Pluralitas, Perbedaan & Kemajemukan

Dalam kerangka pluralitas syariat-syariat di bawah “kesatuan agama yang satu” terdapat pernyataan dalam Al-Qur’an bahwa para pengusung syariat yang berbeda-beda itu akan selamat jika mereka berada dalam koridor pokok-pokok:

  1. Keimanan kepada Tuhan Yang Mahasatu
  2. Keimanan akan hari akhirat, pembangkitan, hisab dan pembalasan amal baik dan amal buruk, dan
  3. Beramal saleh dalam kehidupan dunia.[9]

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Maidah: 69)

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 62)

Dalam kerangka ini pula, kerangka “kesatuan agama” dan “pluralitas” syariat-syariat”, Al-Qur’an melegitimasi realitas ini,

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama[1340] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…” (QS. Ay-Syuura: 13)

Sementara itu, terdapat kemajemukan syariat nabi-nabi, rasul-rasul, serta manhaj umat-umat yang menerima risalah, dalam kerangka “kesatuan agama yang satu”, seperti digambarkan oleh hadits Nabi saw.,

الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ ـ (أَمَّهَاتٍ مُتَعَدِّدَاتٍ) ـ دِيْنُهُمْ وَاحِدٌ، وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى

“Para Nabi adalah saudara dari ibu-ibu yang beragam (ibu-ibu yang berbeda), agama mereka satu, dan ibu mereka beragam.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Imam Ahmad)

Dalam kerangka kesatuan umat dan Negara, yang mempunyai landasan undang-undang yang satu, terdapat pluralitas loyalitas kesukuan dan agama, kemudian undang-undang itu mengatur hubungan antara anggota-anggota yang mempunyai kesatuan loyalitas itu dan loyalitas-loyalitas parsial mereka beragam.

Dengan itu, pula kesatuan Islam yang menyatukan umat, akidah, peradaban, dan wilayah Islam menjadi naungan-naungan bagi pluralitas dalam bahasa-bahasa dan bangsa-bangsa, budaya-budaya lokal, Negara-negara, serta wilayah-wilayah yang berbeda dalam kelompok-kelompok politik, dalam mazhab-mazhab fikih, dalam aliran-aliran pemikiran dan mazhab filsafat, juga dalam syariat-syariat bagi agama-agama langit, sehingga berkembanglah pluralitas ijtihad manusia dalam kerangka kesatuan yang konstan yang terwujudkan dalam pokok-pokok keimanan kepada Allah ﷻ, hari akhirat dan risalah Rasulullah saw.

 

Posisi & Fungsi Ukhuwah Islamiyah pada pluralitas, Perbedaan & Kemajemukan

Sebagaimana kita ketahui bersama dari uraian tersebut diatas, bahwa pluralitas adalah kemajemukan yang didasari oleh keutamaan, keunikan dan kekhasan. Ia adalah sunnah Ilahi yang dapat dilihat di alam ini. Indonesia adalah bukti nyata ayat (tanda kekuasaan) dari ayat-ayat Allah ﷻ diatas sunnah pluralitas dalam sebuah kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di dalamnya tercipta berbagai macam suku bangsa, bahasa dan agama. Dalam kerangka kesatuan sebuah bangsa, Allah menciptakan Indonesia beragam suku dan kabilah. Dalam kerangka kesatuan sebuah bahasa, Allah menciptakan berbagai macam dialek di negeri ini.

Pluralitas mempunyai tingkatan-tingkatan yang ditentukan oleh faktor “penyatu dan pengikat” yang menyatukan dan mengikat masing-masing dimensinya dalam suatu kesatuan. Maka ukhuwah Islamiyah yang bermakna persaudaran dalam bingkai nilai-nilai keislaman, memiliki posisi, fungsi dan peranan yang sangat amat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang pluralitas seperti Indonesia ini. Ia adalah nilai dari factor “penyatu dan pengikat” yang menyatukan dan mengikat kehidupan berbangsa dan bernegara dalam menjaga keutuhan dan kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Antar daerah (propinsi, kabupaten/kota), yang didalam memiliki keunikan, kekhasan masing-masing boleh saling berkompetisi dalam melakukan kebaikan dan berlomba dalam menciptakan prestasi yang baik, dalam berkarya dan berkreasi, namun dalam rangka memajukan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita boleh berkompetisi namun kita adalah bersaudara. Kita boleh beda pilihan, beda suku, beda bahasa, beda budaya, beda keunikan dan kekhasan masing-masing, namun kita tetap bersaudara.

Pluralitas, kemajemukan dan perbedaan itu sebuah keniscayaan. Perselisihan itu adalah “permusuhan” bukan “kemajemukan”, pluralitas tidak dapat disematkan kepada “situasi cerai-berai” dan “permusuhan” yang tidak mempunyai tali persatuan yang mengikat semua pihak, tidak juga kepada kondisi “cerai-berai” yang sama sekali tidak memiliki hubungan antar masing-masing pihak. Oleh karena itu, dibutuhkan “kesatuan” bagi kemajemukan dan rujukan bagi perbedaan yang terjadi, serta suatu kebersamaan dari orang-orang yang berbeda dengan kekhasan masing-masing. Disinilah posisi ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi sangat penting. Ia adalah nilai dari factor “penyatu dan pengikat”, sekaligus menjadi energi pendorong dalam daya saing dan kompetisi menciptakan prestasi, karya dan kreasi.

 

Referensi:

Al-Qur’an al-Karim dan Terjemah. Jakarta: Departemen Agama RI

Bukhari, Shahih Bukhari. Kairo: Dar Sya’b

Muhamamd Imarah, Dr., 1999, Islam & Pluralitas, Jakarta: Gema Insani

Mushthafa Masyhur, 2004, Fiqih Dakwah, Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Ummat

Abduh, Imam Muhammad, 1993.  al-A’mal al-Kamilah, kajian dan tahqiq: Dr. Muhammad Imarah. Kairo

Quthb, Sayyid. 1407 H/1987 M. Fi Zhilal Al-Qur’an, Beirut.

at-Tauhidi, Abu Hayyan, 1944 M. al-Imtina’ wa al-Mu’anasah Tahqiq Ahmad Amin, Ahmad Azzain. Kairo.

 

[1] Al-Qurthubi, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an, juz 9, hlm. 114-115.

[2] Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (Kairo: Darul Kutub al-Mishriyyah), juz 9, hlm. 114-115.

[3] Al-Qisthas al-Mustaqim, hlm. 16. Bagian dari kumpulan al-Qushur al-‘Alawi Min Rasa’il al-Imam al-Ghazali. Cetakan Cairo, Maktabah al-Jundi, tanpa tahun.

[4] Abu Hayyan Attauhidi, al-Imtina’ wa al-Mu’anasah (Kairo. 1944 M), juz 3, hlm. 99. Tahqiq Ahmad Amin, Ahmad Azzain.

[5] Fi Zhilal Al-Qur’an, juz 1, hlm 171, 215, juz 4, hlm 2425. Cetakan Beirut tahun 1407 H/1987 M.

[6] Al-Imam Muhammad Abduh, al-A’mal al-Kamilah, juz 4, hlm 407

[7] Dr. Muhammad Imarah, Al-Islam wat-Ta’addudiyah: Al-Ikhtilaf wat-Tanawwu fi Ithaaril-Wihdah, terjemah oleh Abdul Hayyie Al-Kattanie dengan judul Islam Dan Pluratias, Perbedaan Dan Kemajukan Dalam Bingkai Persatuan, hlm 38, cetakan pertama, tahun 1420 H/1999 M.

[8] Abu Hayyan at-Tauhidi, al-Muqabisat, tahqiq: Muhammad Taufiq Husain, (Beirut: Darul Adab. 1989 M), hlm. 83.

[9] Dr. Muhammad Imarah, Al-Islam wat-Ta’addudiyah: Al-Ikhtilaf wat-Tanawwu fi Ithaaril-Wihdah, terjemah oleh Abdul Hayyie Al-Kattanie dengan judul Islam Dan Pluratias, Perbedaan Dan Kemajukan Dalam Bingkai Persatuan, hlm 14, cetakan pertama, tahun 1420 H/1999 M.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *