Peresmian Pengurus Pusat BKsPPI Periode 2017-2022

Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (Ittihād al-Ma’āhid al-Islamiyyah al-Andunisiy) disingkat dengan BKsPPI menyelenggarakan kegiatan Peresmian Pengurus BKsPPI Periode 2017-2022 M (1438-1443 H) pada hari Rabu, 12 April 2017 (16 Rajab 1438 H) dengan mengangkat tema besar PERAN BKsPPI PENGUATAN KEPRIBADIAN PONDOK PESANTREN SEBAGAI LEMBAGA IQOMATUDDIN.

BKsPPI merencanakan bekerjasama dengan 3 (tiga) pihak. Pertama, DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) sebagai fasilitator Kantor Pusat Administratif, dan Pondok Pesantren Adz-Dzikra sebagai Kantor Operasional. Kedua kerjasama dengan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) akan tetap dibangun dengan membuat MoU (Memorandum of Understanding) untuk dukungan pengembangan Sumber Daya Manusia yang lebih terencana. Ketiga, dengan Ekonomi Syariah 212 untuk pengembangan ekonomi di setiap Pondok Pesantren. Hadir dalam acara ini wakil-wakil dari ketiga institusi tersebut, KH. Ahmad Kholil Ridwan, Lc., Prof. Dr. Ahmad Satori Ismail, dan Dr. Ahmad Juwaini.

Dalam paparannya, Ketua BKsPPI, Prof. Dr. Didin Hafidhuddin, MS., menyatakan pentingnya mengkonsolidasikan lebih dari 4.300 pesantren untuk melahirkan generasi yang beradab dan berilmu. Adab adalah target utama santri yang harus dilahirkan oleh setiap pondok pesantren sebagaimana diteladankan generasi salafushshalih.

Pondok Pesantren sebagai lembaga Iqamatuddin bergerak dalam pembangunan masyarakat dalam berbagai bidang termasuk politik. Dalam bidang politik, Pondok Pesantren bisa disebut sebagai institusi politik tertua di Indonesia, hal ini dapat terlihat dari perjuangan-perjuangan politik dalam proses kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan politik yang telah dilakukan oleh Pondok Pesantren telah melahirkan NKRI sebagai negara religius, sehingga seluruh cara pandang yang mencoba memisahkan antara negara dan agama dapat disebut sebagai pemikiran a-historis.

Ketua BKsPPI yang baru menggantikan ketua yang lama (KH. Ahmad Kholil Ridwan, Lc.) ini pun mengingatkan pesan KH. Sholeh Iskandar yang sering mengangkat ayat Al-Qur’an Surat At-Taubah [9] ayat 122 sebagai nasehat utama bagi seluruh Pondok Pesantren, “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” Pondok Pesantren harus menjadi lembaga yang tetap melahirkan para Murabbi, Ulama, Dermawan, dan kader-kader pejuang di berbagai lini, dan sinergi antar Pondok Pesantren menjadi Visi dan Misi BKsPPI untuk tetap aktif berkoordinasi dengan lebih dari 4.300 Pondok Pesantren.

Ketua BKsPPI yang juga pemimpin Pondok Pesantren Ulul Albab dan Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor ini mengingatkan bahwa para Kyai adalah pelindung umat dan mempertahankan kepribadian Pondok Pesantren, terutama dalam hal Akhlak dan Adab, yang menjadi ciri khas salafushshalih. Inilah rahasia mengapa tulisan para ulama tidak lupa untuk memulainya dengan Bab Adab baru kemudian Ilmu, sehingga melahirkan Budaya Ilmu yang menjadi ciri khas Pondok Pesantren. Ilmu Fardhu ‘Ain dibutuhkan untuk penguatan kepribadian sementara Ilmu Fardhu Kifayah dibutuhkan untuk penguatan masyarakat. Kedua ilmu inilah yang melahirkan peradaban Islam bersatu bersama budaya Ukhuwah.

Sambutan juga disampaikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Dr. Din Syamsuddin yang menegaskan pentingnya ilmu untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Pondok Pesantren sangat diharapkan terus mampu mencetak generasi Indonesia yang berilmu sekaligus menguasai sains dan teknologi untuk tegaknya peradaban Islam yang memimpin dunia.

BKsPPI yang awal berdirinya di Jawa Barat, kini telah berakar di seluruh wilayah di Indonesia. Kontribusi dan prestasi terbaik dari seluruh Pondok Pesantren di Indonesia semoga lebih banyak lagi, dan menjadi referensi terbaik di dunia pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *